Perjuangan Tak Terbatas Di Sekolah Tapal Batas.

Editor: Redaksi author photo
Kepala Sekolah Tapal Batas Hj. Suraidah, S,SKM, MNSc. (Dok. Sahar)

HARIANNUSANTARA.ID | Nunukan - Adalah Ibu Hj. Suraidah, S.SKM, MNSc yang mendedikasikan dirinya untuk memberikan secerah harapan bagi kebanyakan anak - anak TKI yang bekerja di Perbatasan Indonesia - Malaysia.

Ibu Suraidah saat ini memimpin Sekolah Tapal Batas yang awalnya melakukan kegiatan belajar - mengajar di bawah kolong rumah panggung di daerah Sungai Limau, merasa terpanggil untuk mengabdi di perbatasan melalui jalur pendidikan.

Ditemui di Kompleks Sekolah Tapal Batas di Desa Sungai Limau Kecamatan Sebatik Tengah yang saat ini di kelola dibawah naungan Yayasan Ar - Rasyid, (Senin, 3 Februari 2020) Suraidah berharap Sekolah Tapal Batas yang dipimpinnya bisa mendapat perhatian yang serius, baik dari Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi.
"Kami berharap perhatian dari Pemkab maupun Pemprov terhadap Sekolah Tapal Batas, mengingat saat ini kami kekurangan tenaga pengajar, saat ini hanya tinggal 4 (empat) tenaga pengajar termasuk saya yang saat ini masih aktif mengajar untuk 43 orang murid " ujar Suraidah.

Seperti saat ini, untuk kegiatan belajar mengajar karena kekurangan guru terpaksa menggabungkan beberapa kelas, diantaranya kelas 1 digabung dengan kelas 4, kelas 2 digabung dengan kelas 5, sementara untuk kelas 3 dan kelas 6 terpisah.

" Fungsi guru bukan hanya untuk kegiatan belajar mengajar, tetapi juga untuk membentuk karakter kepada anak didik, khususnya akhlaqnya disamping kualitas pendidikan umumnya " papar Suraidah

Selain dari upaya peningkatan kualitas dan akhlaq, menurut Suraidah hal yang tak kalah pentingnya adalah pembinaan rasa Nasionalisme kepada para anak didik.

" Yang perlu kita ketahui bersama, anak didik yang menuntut ilmu di Sekolah Tapal Batas mayoritas adalah anak - anak TKI yang orang tuanya bekerja di daerah Berjoko dan Bergusung di wilayah Sebatik Malaysia, kemudian yang berasal dari Desa Sungai Limau juga orang tuanya merupakan eks TKI, sehingga pengaruh rasa kebangsaan dan berbahasa, kemudian lagu - lagu yang mereka ketahui datang dari Negara " Upin dan Ipin " jelas Suraidah.
"Namun setelah bersekolah hampir 6 tahun di Sekolah Tapal Batas, Alhamdulillah anak - anak kita rata - rata sudah bisa menyanyikan dan hapal dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, serta cara berbahasanya tidak lagi terpengaruh dengan bahasa logat dari negara tetangga Malaysia, jadi rasa Nasionalisme di kalangan anak - anak kita sudah tumbuh dan itu yang harus kita pelihara " tutur Suraidah yang pernah memperoleh penghargaan 72 Ikon Prestasi Indonesia dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Idiologi Pancasila atas kiprahnya dalam dunia pendidikan di perbatasan diera Presiden kelima Megawati Soekarnoputri.

Anak - anak merasa aman selama mengikuti kegiatan di Sekolah Tapal Batas, dibanding ketika mengikuti orang tua mereka yang bekerja di Malaysia, sudah tidak dikejar - kejar oleh aparat Malaysia yang kerap melakukan operasi bagi memburu Pati (Pendatang Tanpa Ijin) sebutan aparat berwajib Malaysia bagi Pekerja Migran Indonesia, karena terkadang anak - anak ini di suruh bersembunyi oleh orang tua mereka sendiri dikarenakan anak - anak tersebut tidak memiliki dokumen kewarganegaraan.

Ditanyakan masalah jumlah guru yang ideal untuk mengajar di Sekolah tersebut, Suraidah menyebutkan bahwa idealnya 1 guru untuk 1 kelas, akan lebih baik lagi kalau ada 2, 1 untuk wali kelas dan 1 guru.

Disinggung masalah honor untuk guru - guru yang mengajar, Suraidah menjelaskan hanya 2 orang guru yang menerima honor, dengan besaran sekiyar 1 Juta Rupiah, sementara dia dan 1 orang lagi guru yang  tidak mendapatkan honor alias bekerja dengan sukarela. (Sahar/HN).
Share:
Komentar

Berita Terkini