Merasa Ditelantarkan, Istri Adukan Suami Ke Polisi

Editor: Redaksi author photo
Yogyakarta, BANTUL - Seorang istri mengadukan suaminya ke kantor Polisi. Pasalnya, kurang lebih dua tahun  suami telah menelantarkannya, tanpa memberikan nafkah lahir maupun batin.

Saat mengadukan penelantaran oleh suaminya ke Mapolres Bantul, pelapor berinisial YF berusia 38 tahun (Pelapor)  warga Desa Banguntapan Yogyakarta ini didampingi Kuasa Hukum yang ditunjuknya Dika Pratama,SH,MH dari Lembaga Bantuan Hukum DPA & Patners Indonesia Pengaduan tersebut, diterima oleh Kanit SPKT III AIPTU Cfatkhurrohman pada tanggal 17 Febuary 2020. dengan nomor : LP-B/64/2020/DIY/RES BANTUL.

Usai mengadukan ke Polres Bantul, Jum'at sore (17/4),  Kuasa Hukum Dika Pratama,SH,MH mengatakan, kedatangan Klien YF (38) itu, untuk melaporkan dugaan tindak pidana kusus tentang penelataran anak dan istri.

“Kebetulan korbannya ini, Ibu YF (38), korban oleh suaminya berinisial M. kita melaporkan pasal 5 huruf d junto pasal 49 uu No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga,"katanya.

Penelantaran  terhadap seorang istri yang sah dalam ikatan perkawinan, tutur Dika Pratama,SH,MH, sesuai UU Penghapusan KDRT, ancaman pidananya hukuman penjara maksimal 3 tahun, dan denda Rp.15juta. Dalam hal penelantaran ini, kata Dika, selain kerugian materil karena harus menafkahi diri dan kedua anaknya. Korban juga mengalami kerugian immateriil karena merasa tidak di perhatikan oleh terlapor.

Bahkan ada laporan yang saya terima dari keterangan korban bahwa ibunya sempat menemui terlapor di kediaman orang tua terlapor. Dan ibunya diundang untuk menghadiri pernikahan sah dengan calon istri barunya. Mendengar perkataan tersebut bila benar akan ada pernikahan yang dilakukan terlapor. Maka terlapor akan dilaporkan kembali dengan ancaman tindak pidana yang berbeda yaitu. Dugaan tindak pidana menikah tanpa persetujuan istri pertama yang termuat dalam pasal 279 tentang larangan menikah tanpa persetujuan istri pertamanya. Maka dari itu kita lihat dulu kejadian di lapangan seperti apa.

“Karena selama kepergian suami, korban merasa semua harus mengurusi sendiri kehidupannya mulai dari mengurus anak dalam kehidupan sehari-hari kebutuhan pokok berupa baju sepatu dan kebutuhan sekolah serta pembiyaan sekolah semua di urus sendiri sampai sekarang,” kata Dika.
Share:
Komentar

Berita Terkini